Memasuki bulan ramadhan, bulan yang mulia dengan beragam hikmah yang terkandung di dalamnya, kaum muslimin perlu mempersiapkan dirinya. Ramadhan merupakan kesempatan bagi kaum  muslimin untuk berlomba menggapai amal ibadah, seperti puasa, qiyamul lail, taddarus al Qur’an, infaq, shadaqah dan sebagainya. Selain persiapan fisik/kesehatan, persiapan keimanan jauh lebih penting. Kita harus terus memperbaiki hati (jiwa) agar senantiasa bersih. Allah berfirman: “Qad aflaha man dzakkaha wa qad khaba man dassaha: sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (QS.Asy-Syams: 9-10).

Salah satu amalan, yang mempunyai nilai sosial yang tinggi adalah membayar zakat. Di bulan puasa, selain setiap orang yang mampu berkewajiban membayar zakat fitrah, dapat pula dikeluarkan zakat mal. Walau al Quran sudah membicarakan zakat dalam ayat-ayat Makiah, namun demikian zakat itu sendiri baru diwajibkan di Madinah.

Zakat yang turun dalam ayat-ayat Makiah tidak sama dengan zakat yang diwajibkan di Madinah, dimana nisab dan besarnya sudah ditentukan, orang-orang yang mengumpul­kan dan membagikannya sudah diatur, dan negara bertanggung jawab mengelolanya.  Berbeda dengan ayat-ayat Al Qur'an yang turun di Makkah, ayat-ayat yang turun di Madinah sudah menjelaskan bahwa zakat itu wajib dalam bentuk perintah yang tegas dan instruksi pelaksanaan yang jelas.  Salah satu surat yang terakhir turun adalah surat At Taubah yang juga merupakan salah satu surat dalam Quran yang menumpahkan perhatian besar pada zakat.  Munurut Dr. Yusuf Qardhawi,  ayat-ayat dalam surat At Taubah tegas membicarakan tentang perihal zakat:

  • Dalam ayat permulaan surat itu Allah memerintahkan agar orang-orang musyrik yang melanggar perjanjian damai itu dibunuh.  Tetapi jika mereka (1) bertaubat, (2) mendirikan shalat wajib, dan (3) membayar zakat, maka berilah mereka kebebasan (QS 9:5).
  • Enam ayat setelah ayat diatas Allah berfirman :"...jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan membayar zakat, barulah mereka teman kalian seagama...." (QS 9:11)
  • Allah juga merestui orang-orang yang menyemarakan masjid; yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan sholat, membayar zakat (QS 9:18)
  • Allah mengancam dengan azab yang pedih kepada orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (QS 9:34-35)
  • Dalam surat ini juga terdapat penjelasan tentang sasaran-sasaran penerima zakat, yang sekaligus menampik orang-orang yang rakus yang ludahnya meleleh melihat kekayaan zakat tanpa hak.  (QS 9:60).
  • Allah menjelaskan pula bahwa zakat merupakan salah satu institusi seorang Mu'min (QS 9:71) yang membedakannya dari orang munafik (yang menggenggam tangan mereka/kikir, QS 9:67).
  • Allah memberikan instruksi kepada Rasul-Nya dan semua orang yang bertugas memimpin ummat setelah beliau untuk memungut zakat (QS 9:103)

Khudz min amwalihim shadaqah....(Pungutlah zakat dari kekayaan  mereka....). 

Kata "min" berarti sebagian dari harta, bukan seluruh kekayaan. 

Kata "amwalihim" dalam bentuk jamak yang berarti : harta-harta kekayaan mereka, yaitu meliputi berbagai jenis kekayaan. 

Kata shodaqah dalam ayat ini oleh kebanyakan ulama salaf maupun khalaf ditafsirkan sebagai zakat dengan dasar hadits dan riwayat shahabat. 

            Kesimpulan yang dapat ditarik berkaitan dengan zakat ini, bahwa seseorang: tanpa menge­lu­ar­kan zakat

1.             belum dianggap sah masuk barisan orang-orang yang bertaqwa;

2.             tidak dapat dibedakan dari orang-orang musyrik;

3.             tidak bisa dibedakan dengan orang-orang munafik yang kikir;

4.             tidak akan mendapatkan rahmat Allah (QS 7:156);

5.             tidak berhak mendapat pertolongan dari Allah, Rasulnya dan orang-

           orang yang beriman (QS 5:55-56);

6.             tidak bisa memperoleh pembelaan dari Allah (QS 22:40-41).

Zakat bukan bertujuan sekedar untuk memenuhi baitul maal dan menolong orang yang lemah dari kejatuhan yang semakin parah.  Tapi tujuan utamanya adalah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta, sehingga manusi menjadi tuannya harta bukan menjadikan budaknya.  Dengan demikian kepentingan tujuan zakat terhadap si pemberi sama dengan kepentingannya terhadap si penerima. 

Lebih lanjut Yusuf Qardhawi menjelaskan tujuan dan dampak zakat bagi si pemberi zakat (muzakki): 

1.   Zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir.

Zakat yang dikeluarkan karena ketaatan pada Allah akan mensucikannya jiwa (9:103) dari segala kotoran dan dosa, dan terutama kotornya sifat kikir. Penyakit kikir ini telah menjadi tabiat manusia (17:100; 70:19), yang juga diperingatkan Rasulullah SAW sebagai penyakit yang dapat merusak manusia (HR Thabrani), dan pe­nya­kit yang dapat memutuskan tali persaudaraan (HR Abu Daud dan Nasai).  Sehingga alang­kah berbahagianya orang yang bisa menghilangkan kekikiran.  "Barangsiapa yang dipeliha­ra dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (59:9; 64:16). 

Zakat yang mensucikan dari sifat kikir ditentukan oleh kemurahannya dan kegembiraan ketika mengeluarkan harta semata karena Allah.  Zakat yang mensucikan jiwa juga berfungsi membebaskan jiwa manusia dari ketergantungan dan ketundukan terhadap harta benda dan dari kecelakaan menyembah harta.

2.   Zakat mendidik berinfak dan memberi.

Berinfak dan memberi adalah suatu akhlaq yang sangat dipuji dalam Al Qur'an, yang selalu di­kaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan (2:1-3; 42:36-38; 3:134; 3:17; 51:15-19; 92:1-21).

Orang yang terdidik untuk siap menginfakan harta sebagai bukti kasih sayang kepada saudaranya dalam rangka kemaslahatan ummat, tentunya akan sangat jauh sekali dari keinginan mengambil harta orang lain dengan merampas dan mencuri (juga korupsi).

3.   Berakhlaq dengan Akhlaq Allah.

Apabila manusia telah suci dari kikir dan bakhil, dan sudah siap memberi dan berinfak, maka ia telah mendekatkan akhlaqnya dengan Akhlaq Allah yang Maha Pengash, Maha Penyayang dan Maha Pemberi.

4.   Zakat merupakan manifestasi syukur atas Nikmat Allah.

5.   Zakat mengobati hati dari cinta dunia.

Tenggelam kepada kecintaan dunia dapat memalingkan jiwa dari kecintaan kepada Allah dan ketakutan kepada akhirat. Adalah suatu lingkaran yang tak berujung: usaha mendapatkan harta ----> mendapatkan kekuasaan ----> mendapatkan kelezatan ----> lebih berusaha mendapatkan harta, dst.  Syariat Islam memutuskan lingkaran tersebut dengan mewajibkan zakat, sehingga terhalanglah nafsu dari lingkaran syetan itu.  Bila Allah mengaruniai harta dengan disertai ujian/fitnah (21:35; 64:15; 89:15) maka zakat melatih si Muslim untuk menandingi fitnah harta dan fitnah dunia tsb.

6.   Zakat mengembangkan kekayaan bathin.

Pengamalan zakat mendorong manusia untuk menghilangkan egoisme, menghilangkan kelemahan jiwanya, sebaliknya menimbulkan jiwa besar dan menyuburkan perasaan optimisme.

7.   Zakat menarik rasa simpati/cinta

Zakat akan menimbulkan rasa cinta kasih orang-orang yang lemah dan miskin kepada orang yang kaya.  Zakat melunturkan rasa iri dengki pada si miskin yang dapat mengancam si kaya dengan munculnya rasa simpati dan doa ikhlas si miskin atas si kaya.

8.   Zakat mensucikan harta

Zakat mensucikan harta dari bercampurnya dengan hak orang lain (Tapi zakat tidak bisa mensucikan harta yang diperoleh dengan jalan haram).

9.   Zakat mengembangkan dan memberkahkan harta. 

Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda (34:39; 2:268).  Sehingga tidak ada rasa khawatir bahwa harta akan berkurang dengan zakat.